PLN telah menetapkan 12 KPI ESG, yang terus dipantau setiap bulan. Guna mencapai KPI tersebut, ada ESG breakthrough.
"KPI kami coba petakan berdasarkan penilaian dari lembaga rating, ternyata bisa kami tingkatkan untuk naikkan ESG rating kami. Sebagian besar ini adalah indikator ataupun penilaian Proper," kata Imam.
Baca Juga:
Dunia Krisis Energi, ALPERKLINAS: Transisi PLTD ke PLT Energi Bersih Perkuat Ketahanan Nasional
Pembicara lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran, Prof M.Fani Cahyandito menyampaikan bahwa perusahaan yang tidak melakukan ESG akan dianggap perusahaan yang tertinggal. Pasalnya, saat ini para investor sudah memperhatikan soal ESG. Banyak penelitian yang mengaitkan ESG dan kinerja keuangan.
"Investor semakin tersadarkan bahwa perusahaan yang stabil, bisa beroperasi, karyawan produktif adalah perusahaan yang memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Lebih stabil juga perusahaan yang memperhatikan masyarakat. Ini adalah perusahaan yang dipandang lebih punya kelanjutan dibanding yang tidak punya ESG," ujar Fani.
Sementara itu, Plt Sekjen Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana mengatakan ESG telah menjadi standar seluruh dunia untuk wujudkan pembangunan berkelanjutan. Meskipun diakuinya bahwa implementasi pelaksanaan ESG di Indonesia masih rendah.
Baca Juga:
Peduli Pendidikan Al-Qur'an, Hasan Widodo Ahwad Salurkan Bantuan Mushaf ke Rumah Tahfidz di Simpang Sungai Duren
"Pelaksanaan ESG dalam perusahaan dapat meningkatkan investasi. ESG perlu sejalan dengan transisi energi," katanya.[ss]